Dari jadwal berulang dan trigger berbasis meter sampai work order breakdown dadakan: satu sistem, satu audit trail. Template Anda susun sekali; catatan operasionalnya terbentuk sendiri dari aktivitas sehari-hari.
Konfigurasi yang jarang berubah. Menyusun keempatnya dengan benar adalah sebagian besar pekerjaannya, dan itu pekerjaan di awal, bukan berulang-ulang.
Dihasilkan dari apa yang benar-benar terjadi, bukan dipelihara manual.
Sebuah Plan jatuh tempo, atau terjadi breakdown. Apa pun pemicunya, Work Order dibuat, berpindah ke In Progress, dan baru bisa mencapai Done setelah tiga syarat terpenuhi.
Mesin yang bekerja lebih berat seharusnya diservis lebih cepat, bukan di tanggal kalender yang sama dengan mesin yang menganggur. Ketiga tipe trigger tersedia.
| Trigger | Cara memicu | Contoh |
|---|---|---|
| Calendar | Setiap N hari, tanpa melihat pemakaian | Inspeksi bulanan, jatuh tempo tanggal 1, mau mesinnya jalan 10 jam atau 300 jam |
| Meter | Setiap N jam akumulasi waktu operasi | Servis tiap 500 jam operasi, bukan tiap 60 hari |
| Keduanya | Yang lebih dulu tercapai | Mesin dengan beban berat tetap diservis tepat waktu meski tanggal kalendernya belum tiba |
Jendela advance notice membuat kejadian berikutnya dibuat lebih awal, jadi pekerjaannya sudah terlihat dan bisa direncanakan sebelum benar-benar jatuh tempo.
Pertanyaan yang biasanya diajukan tim maintenance dan QA sebelum memutuskan.
Tidak. Spare part wajib harus dikonsumsi penuh sebelum tombol Complete aktif, dan itu ditegakkan di sisi server, bukan di antarmuka.
Ya. Setiap spare part punya minimum stock level, dan turun di bawah ambang itu otomatis memunculkan reorder alert.
Bisa. Trigger berbasis meter memicu dari akumulasi jam operasi, dan trigger gabungan Calendar+Meter memicu dari ambang mana pun yang lebih dulu tercapai.
Ya. Alur penyelesaiannya identik, audit trail-nya identik, dan diklasifikasikan terhadap katalog failure mode yang sama.
Bisa, per task, memakai mekanisme tanda tangan hash-chained yang sama dengan langkah produksi teregulasi.