Ketika auditor bertanya: dapatkah Anda membuktikan satu batch benar-benar halal?

Terbit:

Jawaban singkatnya

Traceability halal adalah kemampuan menelusuri dan membuktikan bahwa setiap batch diproduksi menggunakan material yang memenuhi persyaratan halal, diproses dengan prosedur yang benar, dan tidak terpapar kontaminasi silang. Buktinya berada pada catatan produksi, bukan pada sertifikat yang ditempel di dinding.

Sertifikat halal tidak membuktikan apa yang terjadi hari ini

Sertifikat halal sering dipahami sebagai titik akhir. Setelah sertifikat diterbitkan, banyak perusahaan menganggap prosesnya sudah selesai.

Padahal, sertifikat hanya menyatakan bahwa suatu produk memenuhi persyaratan tertentu pada saat dilakukan pemeriksaan. Produksi tidak berhenti setelah audit selesai. Bahan baku berubah. Supplier berubah. Operator berganti. Equipment dipakai bergantian.

Produk tidak diproduksi sebagai konsep. Produk diproduksi dalam bentuk batch.

Karena itu, klaim halal harus dapat dibuktikan untuk setiap batch yang keluar dari pabrik.

Batch yang diproduksi hari ini harus dapat ditelusuri sama baiknya dengan batch yang diproduksi enam bulan lalu. Jika tidak, sertifikat halal hanya menjadi dokumen administratif yang tidak didukung oleh bukti operasional.

Apa yang sebenarnya ingin dilihat auditor?

Ketika auditor meminta bukti, pertanyaannya hampir selalu mengarah pada hal yang sama: apa yang benar-benar terjadi selama produksi?

PertanyaanBukti yang harus tersedia
Bahan apa saja yang digunakan?Lot material yang benar-benar dikonsumsi
Dari mana bahan tersebut berasal?Supplier, nomor lot, dan dokumen pendukung
Diproses menggunakan equipment apa?Riwayat penggunaan equipment dan urutan proses
Bagaimana kontaminasi silang dicegah?Catatan pencucian dan verifikasi pelaksanaannya

Perhatikan bahwa tidak satu pun dari pertanyaan tersebut dapat dijawab hanya dengan dokumen prosedur. Semuanya adalah pertanyaan tentang apa yang benar-benar terjadi di lantai produksi.

Tiga titik yang paling sering gagal

1. Substitusi material yang tidak tercatat

Lot bahan baku yang direncanakan habis. Operator mengambil lot lain agar produksi tidak berhenti.

Secara teknis, keputusan itu mungkin benar.

Masalahnya muncul ketika lot pengganti tersebut tidak tercatat.

Batch yang dihasilkan kemudian memiliki dua versi kebenaran: material yang direncanakan dan material yang benar-benar digunakan.

Untuk keperluan audit, hanya satu yang dianggap valid.

Karena itu, pencatatan konsumsi material seharusnya dilakukan pada saat pengambilan, bukan setelah produksi selesai.

2. Kontaminasi silang melalui equipment yang digunakan bersama

Sebagian besar pabrik menggunakan equipment yang sama untuk beberapa produk.

Mixer, tangki, conveyor, dan filling machine sering digunakan secara bergantian.

Hal itu tidak menjadi masalah selama dua hal dapat dibuktikan:

  1. Urutan penggunaannya diketahui.
  2. Pencucian di antara dua penggunaan benar-benar dilakukan.

Permasalahannya adalah kedua informasi tersebut sering kali berada di dokumen yang berbeda.

Log produksi berada di satu tempat.

Log pencucian berada di tempat lain.

Catatan maintenance berada di sistem yang berbeda.

Ketika ketiga informasi itu harus digabungkan secara manual, proses audit menjadi lambat dan rentan terhadap kesalahan.

3. Dokumen halal supplier yang sudah tidak berlaku

Status halal bahan baku tidak selalu tetap.

Supplier dapat mengganti sumber bahan, mengubah formulasi, memperbarui sertifikat, atau membiarkan sertifikatnya kedaluwarsa.

Jika pemeriksaan hanya dilakukan saat supplier didaftarkan, maka status material saat produksi bisa saja sudah berubah.

Pertanyaan yang lebih tepat bukan:

“Apakah material ini pernah memiliki sertifikat halal?”

Melainkan:

“Apakah lot yang digunakan pada hari produksi masih memenuhi persyaratan pada saat dikonsumsi?”

Mengapa spreadsheet mulai kehilangan efektivitasnya?

Spreadsheet bukan alat yang buruk.

Untuk satu lini produksi dengan sedikit bahan baku, spreadsheet dapat digunakan selama bertahun-tahun.

Masalahnya bukan jumlah data.

Masalahnya adalah jeda waktu antara kejadian dan pencatatannya.

Spreadsheet hampir selalu diisi setelah proses selesai.

Akibatnya, informasi yang dicatat adalah apa yang diingat operator atau apa yang seharusnya terjadi, bukan apa yang benar-benar terjadi.

Dan dua informasi yang paling sering hilang justru merupakan dua hal yang paling penting dalam traceability halal:

  • Pergantian lot material.
  • Urutan penggunaan equipment.

Ada satu cara sederhana untuk mengujinya.

Ambil satu nomor batch secara acak dari enam bulan yang lalu.

Kemudian minta seluruh riwayatnya.

Jika jawabannya membutuhkan waktu berjam-jam atau masih bergantung pada ingatan seseorang, berarti sistem ketertelusurannya masih memiliki celah.

Yang berubah ketika pencatatan dilakukan saat produksi berlangsung

Manufacturing Execution System tidak membuat produk menjadi halal.

Yang berubah adalah cara informasi dikumpulkan.

  • Konsumsi material dicatat pada saat terjadi. Lot yang dipilih operator langsung masuk ke catatan batch.
  • Material yang tidak memenuhi syarat ditolak sebelum digunakan. Material yang ditahan atau kedaluwarsa tidak dapat dikonsumsi.
  • Riwayat equipment terbentuk secara otomatis. Tidak perlu merekonstruksi urutan penggunaan setelah produksi selesai.
  • Genealogy dapat ditelusuri dua arah. Dari bahan baku ke produk jadi maupun sebaliknya.

Ketika satu lot material bermasalah, pertanyaannya selalu sama:

Batch mana yang menggunakan lot tersebut?

Jika hubungan antara lot dan batch sudah tercatat saat konsumsi terjadi, jawabannya dapat diperoleh dalam hitungan detik.

Catatan tentang regulasi

Kerangka hukum jaminan produk halal di Indonesia terus berkembang.

Ketentuan teknis dan jadwal implementasinya dapat berubah sesuai kategori produk dan skala usaha.

Karena itu, persyaratan terbaru sebaiknya selalu mengacu pada regulasi resmi.

Namun, satu prinsip tidak pernah berubah.

Klaim halal harus dapat dibuktikan.

Dan bukti tersebut selalu berasal dari catatan yang terbentuk selama proses produksi berlangsung.

Posisi VECHR MES

VECHR MES mencatat aktivitas produksi saat kejadian berlangsung.

Konsumsi material dicatat di titik pengambilan menggunakan aturan FIFO atau FEFO. Material yang ditahan atau tidak memenuhi persyaratan dapat ditolak sebelum digunakan.

Setiap langkah produksi membawa informasi mengenai equipment, operator, waktu, material, dan hasil proses.

Genealogy dapat ditelusuri dua arah, termasuk ketika terjadi split dan merge selama proses produksi.

Riwayat maintenance dan aktivitas pencucian equipment juga berada dalam model data yang sama, sehingga hubungan antara batch, equipment, dan aktivitas di antaranya dapat ditelusuri tanpa menggabungkan beberapa sumber data.

Untuk industri yang juga menerapkan rekaman elektronik, catatan produksi VECHR MES menggunakan mekanisme hash-chained yang memungkinkan verifikasi dilakukan secara independen.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa bedanya sertifikasi halal dengan traceability halal?

Sertifikasi halal adalah pengakuan bahwa suatu produk memenuhi persyaratan yang ditetapkan regulator. Traceability halal adalah kemampuan membuktikan bahwa setiap batch yang diproduksi setelah sertifikat diterbitkan masih mengikuti persyaratan yang sama. Sertifikasi menetapkan status produknya; traceability membuktikan status setiap batch-nya.

Apakah SJPH mengharuskan penggunaan software tertentu?

Tidak. Regulasi mengatur pengendalian dan dokumentasi, bukan jenis software yang harus digunakan. Sistem digital biasanya mulai dibutuhkan ketika jumlah material, supplier, lini produksi, dan variasi produk membuat pencatatan manual tidak lagi memadai.

Bagaimana menangani equipment yang digunakan bergantian untuk produk yang berbeda?

Anda harus dapat menunjukkan urutan penggunaan equipment dan membuktikan bahwa prosedur pencucian yang diwajibkan benar-benar dijalankan di antara dua penggunaan tersebut. Tanpa catatan yang jelas, pembuktian menjadi sangat sulit.

Apa yang terjadi jika satu lot bahan baku dinyatakan bermasalah?

Anda harus dapat segera mengidentifikasi seluruh batch yang menggunakan lot tersebut dan mengetahui ke mana produk terkait sudah didistribusikan. Semakin lambat jawabannya ditemukan, semakin besar cakupan investigasi dan potensi penarikan produk.

Apakah traceability halal berbeda dengan traceability kualitas?

Mekanismenya sama: lot, batch, genealogy, dan riwayat equipment. Perbedaannya terletak pada konsekuensinya. Pada konteks halal, satu material yang tidak memenuhi persyaratan dapat membatalkan klaim halal seluruh batch.

Lanjut baca